PROFIL

Berdasarkan Kepmenhut No.6186/kpts-II/2002 tanggal 10 Juni 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Taman Nasional, Taman Nasional Wasur mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut :

Tugas Pokok
Melaksanakan pengelolaan ekosistem Taman Nasional dalam rangka Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.

Fungsi
1. Penyusunan rencana, program dan evaluasi pengelolaan
2. Pengelolaan kawasan konservasi Taman Nasional
3. Pengawetan dan pemanfaatan secara lestari
4. Perlindungan, pengamanan, dan penanggulangan kebakaran
5. Promosi dan informasi, bina wisata alam serta penyuluhan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem
6. Kerjasama pengelolaan kawasan
7. Pelaksanaan Urusan Tata usaha dan Rumah tangga

 

Program dan Kegiatan Berkala
A. Pembinaan daya dukung kawasan

  • Survei potensi daerah tangkapan air danau, rawa dan sungai,
  • Inventarisasi jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi dan tidak dilindungi
  • Inventarisasi satwa dan tumbuhan komoditi (pangan, dagang, dan obat)


B. Perlindungan dan pengamanan potensi kawasan

  • Pencegahan, pengendalian dan penanggulangan kebakaran
  • Pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat
  • Patroli rutin 
  • Pengembangan pos dan menara kebakaran
  • Pengadaan perlengkapan pemadaman kebakaran/mobil pemadam kebakaran
  • Operasi pengamanan (simpatik, swakarsa, fungsional, gabungan dan partisipatif)
  • Pengadaan sarana prasarana (pengamanan, komunikasi, dan navigasi)


C. Pembinaan daya dukung kawasan

  • Inventarisasi habitat terancam
  • Identifikasi flora eksotik pengganggu
  • Monitoring dan evaluasi pembinaan habitat dan populasi
  • Rehabilitasi dan pembinaan habitat
  • Pengendalian jenis fauna pengganggu


D. Pemanfaatan kawasan

  • Pengadaan sarana prasarana pengamatan jenis.
  • Pendokumentasian (praktek perburuan tradisional, pembakaran dan pengendalian banjir tradisional, upacara adat, sistem sasi, penyuluhan terpadu bersama instansi terkait dan LSM, dan pembinaan karang taruna)
  • Pengembangan sarana prasarana bumi perkemahan, bersampan, pondok wisata, menara pengamatan, kios cinderamata, lapangan parkir, taman wisata keluarga


E. Pembinaan partisipasi masyarakat

  • Pembinaan pemberdayaan masyarakat (industri kecil penyulingan minyak kayu putih, pembuatan ikan asin, tanaman obat, budidaya tanaman komersil)
  • Penyediaan sarana penunjang rekreasi dan wisata alam


F. Aspek kebijaksanaan dan koordinasi

  • Pengembangan kemitraan dan kerja sama
  • Penyusunan petunjuk pelaksanaan/dewan penasehat taman
  • Tindak lanjut MoU Tri National Wetland antara Tonda Wildlife Management Area, Kakadu National Park dan Taman Nasional Wasur dalam pengelolaan terpadu daerah lahan basah


G. Penataan kawasan

  • Rekonstruksi pal batas kawasan 
  • Pemeliharaan jalur batas kawasan
  • Tata batas zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, dan zona pemukiman
  • Sosialisasi tata batas zonasi
  • Monitoring dan evaluasi zonasi


H. Penelitian dan pengembangan

  • Penelitian dan pengembangan kearifan tradisional


I. Pengembangan sarana prasarana

  • Pembangunan kantor Seksi Pengelolaan 
  • Pengadaan sarana prasarana dan kantor baru
  • Pengadaan alat pengolah data
  • Pengadaan sarana prasarana dan pusat informasi
  • Pembangunan barak Polisi Hutan
  • Pemeliharaan Kantor Balai, kantor Seksi Wilayah, pondok kerja, pondok jaga, pusat informasi

SEJARAH

Kawasan hutan Wasur sejak tahun 1978, telah ditunjuk sebagai suaka alam yang terdiri dari Suaka Margasatwa Wasur berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 252/Kpts/Um/5/1978 tanggal 3 Mei 1978, dengan luas 206.000 hektar dan Cagar Alam Rawa Biru dengan luas 4.000 hektar. Kemudian pada tahun 1982 luasan Suaka Margasatwa Wasur ditambah sebanyak 98.000 hektar berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 15/Kpts/Um/1/82, sehingga luasannya bertambah menjadi 304.000 hektar.

Pada Tahun 1990 kedua kawasan tersebut (CA. Rawa Biru dan Suaka Margasatwa Wasur) dideklarasikan sebagai Taman Nasional Wasur, berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 448/Kpts-II/1990 tanggal 24 Maret 1990 dengan luas keseluruhan 308.000 hektar. Selanjutnya pada tahun 1997 Taman Nasional Wasur ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 282/Kpts-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997, dengan luas 413.810 hektar.

Kemudian pada tahun 2014, Balai Taman Nasional Wasur ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: No. 2549/ Menhut-VII/KUH/2014 tentang Penetapan Kawasan Taman Nasional Wasur seluas 431.425,12 Ha.

Kawasan ini terletak di bagian tenggara pulau Papua dalam wilayah administratif Kabupaten Merauke Propinsi Papua dan secara geografis TN Wasur  berada antara koordinat 140°27’ – 141°2’ Bujur Timur dan 8°5’ – 9°7’ Lintang Selatan.

Batas-batas kawasan adalah sebagai berikut :
Sebelah Timur berbatasan dengan Suaka Margasatwa Tonda di Papua New Guinea,
Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Merauke,
Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Arafura,
Sebelah Utara berbatasan dengan kawasan Sungai Maro.

Kondisi topografi Taman Nasional Wasur relatif datar dengan kemiringan 0 sampai 8 persen. Jenis tanah yang dijumpai adalah Organosol Aluvial, Podsolik Merah Kuning dan Hidromorf kelabu. Kawasan ini merupakan salah satu ekosistem lahan basah penting di Indonesia, karena memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi.

Taman Nasional Wasur mengalami dua musim yaitu musim kering selama 5 sampai 6 bulan (Juni / Juli - Desember) dan musim basah selama 6 sampai 7 bulan (Januari - Juni / Juli) dalam setahun. Kawasan ini memiliki iklim moonson.

VISI & MISI

VISI

Terjaganya kelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem pendukungnya melalui pengembangan masyarakat di dalam maupun di sekitar kawasan Taman Nasional Wasur.

 

MISI

  1. Menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Taman Nasional Wasur dan ekosistem pendukungnya melalui upaya perlindungan, pengawetan, pelestarian dan pemanfaatan kawasan.

  2. Meningkatkan perekonomian masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar kawasan melalui upaya pembangunan berkelanjutan yang sesuai dengan kaidah konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem Taman Nasional Wasur.

  3. Meningkatkan partisipasi para pihak dalam satu kerangka pengelolaan yang terpadu.

  4. Mengoptimalkan fungsi kawasan Taman Nasional Wasur untuk kepentingan penelitian, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, kegiatan yang menunjang budidaya, rekreasi dan wisata alam serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum.

POTENSI

Potensi Flora

Secara umum jenis vegetasi yang terdapat di dalam kawasan TN Wasur dapat dikelompokkan dalam 10 (sepuluh) klas hutan sebagai berikut:

  1. Hutan Dominan Melaleuca sp. (Dominant melaleuca forest) didominasi oleh jenis vegetasi antara lain Melaleuca sp., Lophostemon lactifluus, Xanthostemon sp., Acacia leptocarpa, Asteromyrtus symphiocarpa, Eucalypthus sp., dan lain-lain.

  2. Padang Rumput Rawa (Grass swamp) didominasi oleh Pandanus sp., Phragmites karka, Hanguana sp. dan teratai.

  3. Padang Rumput (Grassland) didominasi oleh jenis vegetasi  Graminae sp. dan Pandanus sp.

  4. Savana (Savanna) didominasi oleh jenis vegetasi antara lain Melaleuca cajuputi, Banksia dentata, Asteromyrtus symphiocarpa, Eucalypthus sp. dan Melaleuca sp.

  5. Hutan Bakau (Mangrove forest)  didominasi oleh jenis vegetasi antara lain Avicennia marina, Bruguiera gymnorhiza, Exocaria agallocha, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Xylocarpus granatum, Xylocarpus moluccana dan palem.

  6. Hutan Pinggir Sungai (Rivarian forest) didominasi oleh jenis vegetasi antara lain Eucalypthus sp., Baringtonia cf acutangula, Trichospermum sp., Bamboo sp., Nypa fruticans dan Graminae spp. Luas masing-masing hutan monsoon dan riparian secara pasti masih belum diketahui.

  7. Hutan Musim (Monsoon forest) didominasi oleh jenis vegetasi antara lain Eucalypthus sp., Acasia auriculiformis, Acacia mangium, Dillenia alata, Banksia dentata, Rhodomyrtus sp. dan lain-lain.

  8. Hutan Pantai (Coastal forest) didominasi oleh jenis vegetasi antara lain Exocaria agallocha, Premna corymbosa, Terminalia catappa, Pongamia pinnata,  Thespesia populnea  dan Cocos nucifera.

  9. Hutan Jarang (Woodland forest) didominasi oleh jenis vegetasi antara lain Vitex pinnata, Melaleuca sp., Xanthostemon sp., Trichospermum sp., Dillenia alata, Eucalypthus sp., Asteromyrtus symphiocarpa,  yang dibagian bawahnya tumbuh berbagai tumbuhan semak.

  10. Hutan Co-Dominan Melaleuca sp. - Eucalypthus sp., (Co-dominant Melaleuca-Eucalypthus forest) didominasi oleh jenis vegetasi antara lain Melaleuca cajuputi, Eucalyptus alba, Asteromyrtus symphiocarpa, Eucalyptus pelita, Eucalyptus sp.,  Rhodomyrtus sp. dan lain-lain.

 

Potensi Fauna

Di TN Wasur diperkirakan terdapat 80 jenis mamalia dan yang telah teridentifikasi sebanyak 34 spesies dimana 32 spesies diantaranya adalah endemik Papua. Burung tercatat 403 spesies dengan 74 jenis diantaranya endemik Papua dan diperkiraan terdapat 114 spesies yang dilindungi. Untuk jenis ikan tercatat 39 jenis dari 72 jenis yang diperkirakan ada, dan 32 jenis diantaranya terdapat di danau Rawa Biru dan 7 jenis terdapat di sungai Maro. Sedangkan untuk jenis reptil telah tercatat 21 jenis, 4 (empat) jenis kura-kura, 5 (lima) jenis kadal, 8 (delapan) jenis ular dan 1 (satu) jenis bunglon. Untuk amphibi tercatat hanya ada 3 jenis, sedangkan data  serangga dalam kawasan TN Wasur masih belum banyak diperoleh, namun sedikitnya telah tercatat sebanyak 48 jenis.

Mamalia besar asli yang terdapat di kawasan TN Wasur adalah tiga marsupial yaitu Kanguru lincah (Macropus agilis), Kanguru hutan/biasa (Darcopsis veterum) dan Kanguru bus (Thylogale brunii).

Jenis-jenis burung yang terdapat di TN Wasur, antara lain  burung garuda irian (Aquila gurnayei), cenderawasih (Paradisaea apoda), kakatua (Cacatua sp.), mambruk (Goura cristata), alap-alap (Accipiter sp.), nandur (Ailuroedus sp.), belibis (Anas sp.), Bangau (Ardea sp.), dan lain-lain.

TN Wasur yang merupakan daerah lahan basah merupakan tempat yang sangat penting untuk burung-burung air di Indonesia, khususnya burung migran dari dan ke Australia dan New Zealand. Oleh karena itu, kawasan itu memiliki arti penting bagi kepentingan internasional sebagai tempat persinggahan ribuan burung migrasi antara Australia dan Asia.

Daerah-daerah yang sering menjadi habitat burung migran adalah daerah padang rumput, danau Rawa Biru, Rawa Dogamit, Rawa Mblatar dan pantai Ndalir. Pantai Ndalir dan Rawa Dogamit sering dikunjungi sekelompok burung pantai migran setiap tahunnya selama bulan Agustus sampai September, seperti Calidris ruficollis, Xenus cinereus, Calidris tenuirotris dan Charadrius mongolus.

Kawasan TN Wasur merupakan lahan basah yang luas, dimana banyak kehidupan aquatik yang menjadi komponen penting bagi keanekaragaman hayati dalam kawasan. Beberapa spesies ikan di kawasan ini, antara lain Arwana (Scleropages jardinii), Kakap loreng (Amniataba affinis) dan Sumpit loreng (Toxotes jaculatrix). Selain itu juga terdapat jenis-jenis ikan lain seperti Ikan Duri (Arius graeffei),  Ikan Lele (Clarias batrachus),  Kakap Kuning (Glassomia aprian), Ikan kaca kecil (Ambassis agrammus), dan lain-lain.

Reptil yang terdapat di TN Wasur , yaitu 2 (dua) jenis buaya (Crocodylus porosus dan Crocodylus novaeguineae), biawak (Varanus sp.), Kura-kura leher panjang Irian (Chelodina novaeguineae) dan kura-kura dada merah (Emydura subglobosa), kadal (Mabouya sp.), ular (Liasis, Phyton) dan bunglon (Calotus jubatus). Sedangkan jenis katak yang tercatat hanya 3 jenis yaitu katak pohon (Hyla caerulea), katak pohon irian (Litoria infrafrenata) dan katak hijau (Rana macrodon).

 

Potensi Wisata

Objek dan daya tarik wisata alam tersebut antara lain keindahan dan panorama alam, kehidupan flora dan fauna liar, bentang alam pantai, sungai dan lahan basah dengan berbagai keanekaragaman hayati maupun atraksi budaya tradisional lainnya.

Adapun ODTWA di Taman Nasional Wasur, antara lain:

  1. Pengamatan burung-burung migran di Pantai Ndalir, Rawa Dogamit dan Mblatar.

  2. Pengamatan burung-burung endemik di hutan jarang Melaleuca dan hutan dataran rendah.

  3. Wisata Sunset, memancing, berperahu dan berenang di Pantai Ndalir.

  4. Gedung Pusat Informasi dan Wisma Bina Cinta Alam BOMI SAI.

  5. Kolam Pemandian Biras.

  6. Bumi Perkemahan TN Wasur.

  7. Wisata memancing, berperahu dan berenang di Rawa Biru

  8. Wisata perbatasan (Monumen Tata Batas & Tugu Kembar Sabang Merauke) di Sota.

  9. Wisata budaya (pembuatan Sagu Sep) di Rawa Biru dan Kampung Wasur.

  10. Kerajinan tangan di Kampung Wasur dan Yanggandur.

  11. Pengamatan anggrek dan penyulingan minyak kayu putih oleh masyarakat di Kampung Wasur dan Yanggandur.

 

Kearifan Lokal

Wisata Budaya (4 suku adat): Marori Men-Gey, Kanume, Yeinan dan Malind Imbuti.

  • Tari-tarian

  • Masakan tradisional

  • Adat-istiadat

Masyarakat tradisional sebagian besar berada di dalam kawasan yang sehari-harinya melakukan pengumpulan bahan makan, baik sagu, hasil kebun/pekarangan, hasil buruan maupun hasil perikanan.

STRUKTUR ORGANISASI

PERATURAN